Waspadai Penyebab Keputihan pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Satu hal yang senantiasa dikhawatirkan oleh seorang wanita adalah keputihan. Keputihan bisa terjadi pada wanita usia berapa saja, termasuk anak-anak. Sejumlah faktor bisa menjadi penyebabnya.

Keputihan dalam istilah kedokteran disebut ‘flour albus’ atau ‘leukorrhea’. Keputihan adalah keluarnya cairan vagina yang berlebihan dan kerap disertai dengan berbagai keluhan. Keputihan paling banyak dialami wanita usia produktif. Tapi, tak menutup kemungkinan bisa terjadi pada anak-anak dan usia tua.

Beberapa penyebab keputihan pada anak dan bayi antara lain:

  • Kontaminasi bakteri dari anus

Pada bayi atau anak, kurangnya kebersihan daerah sekitar vagina dan lubang dubur menyebabkan sekitar 70% kasus keputihan pada anak. Kurangnya kebersihan daerah sekitar vagina dan lubang dubur terbanyak disebabkan oleh bakteri coli yang berasal dari feses (tinja). Ini terjadi terutama kalau cebok arahnya dari belakang ke depan sehingga bakteri dari feses terbawa ke daerah kemaluan. Jadi, cebok harusnya dilakukan dari arah depan ke belakang.

  • Kontaminasi dan iritasi feses

Misalnya pada bayi yang menggunakan diaper dan orangtua tidak tahu jika anaknya buang air besar sehingga fesesnya mengenai vagina.

  • Masuknya benda asing ke vagina

Contohnya kapas atau tisu tertinggal di vagina saat orangtua membersihkan vagina bayi. Pasir, manik-manik, bubuk krayon, biji-bijian, tanah dan lain-lain yang masuk ke vagina karena anak sering bermain dan duduk di lantai atau tanah juga bisa menyebabkan keputihan.

  • Infeksi karena jamur

Biasanya karena kondisi vagina lembap. Ini bisa karena anak mengompol atau setelah cebok tidak dikeringkan. Si kecil juga harus diberi tahu agar tidak menahan buang air kecil karena, contohnya, asyik bermain. Bila ini dilakukan, akibatnya air kencing menetes sedikit demi sedikit yang membuat daerah itu rawan iritasi, lembap, dan gatal.

  • Infeksi lain oleh bakteri, virus, atau parasit

Penyebab lain yang sering adalah bakteri streptokokus dan stapilokokus yang ditularkan melalui tangan dari daerah mulut dan kerongkongan.

  • Higienitas pakaian

Pakaian kotor, popok basah, pakaian atau celana yang terlalu ketat juga bisa meningkatkan risiko keputihan pada anak. Pilihlah pakaian dalam yang longgar dan terbuat dari bahan yang mudah menyerap keringat sehingga vagina bayi dan anak tetap kering dan tidak lembap.

Keputihan saat usia balita seringkali bukanlah hal yang normal. Apalagi jika keputihan berwarna kehijauan dan berbau. Jadi, sebaiknya Anda memeriksakan anak Anda ke dokter dan lebih baik lagi ke dokter kulit dan kelamin agar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut bila perlu dengan tes cairan vagina untuk mengetahui penyebab keputihan sehingga anak Anda bisa diberikan penanganan yang tepat. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here