Zat Aditif Makanan

SehatFresh.com – Makanan yang sehat belum tentu makanan yang memiliki rasa lezat, dengan bentuk dan warna yang menarik, serta aroma yang menggoda. Sehat saja dirasa belum cukup untuk sebuah makanan, tapi juga harus berasa lezat dan memiliki tampilan yang menarik untuk menggugah selera. Oleh karenanya, banyak orang yang cenderung menambahkan bahan-bahan tambahan pada makanan yang diolahnya, ini disebut zat aditif.

Awalnya, zat aditif dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan, zat aditif alami. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan bertambahnya kebutuhan pangan, ketersediaan zat aditif alami semakin terbatas sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan manusia. Itulah sebabnya, para produsen makanan banyak memanfaatkan zat aditif sintetis dari bahan kimia.

Produsen makanan menggunakan zat aditif sintetis guna meningkatkan rasa, memperbaiki tekstur, menambah nutrisi dan agar lebih tahan lama. Sementara beberapa zat aditif seperti vitamin dan mineral memberikan kontribusi untuk kesehatan, zat aditif lainnya bisa menimbulkan risiko kesehatan. Memahami pengaruh zat aditif pada makanan dan pengaruhnya bagi kesehatan dapat membantu Anda membuat pilihan makanan yang lebih sehat.

  • Pemanis buatan

Pemanis buatan seperti aspartam, sakarin dan acesulfame-K, yang digunakan dalam produk seperti minuman ringan masih menjadi kontroversi. Otak bereaksi secara berbeda terhadap pemanis buatan dan gula pasir. Setelah mengonsumsi pemanis buatan, otak manusia akan menafsirkan rasa manis secara berbeda. Ini menyebabkan reaksi yang berbeda pula. Cukup banyak penelitian yang menyebutkan bahwa konsumsi pemanis buatan dalam minuman bisa meningkatkan berat badan. Sejak minuman dengan pemanis buatan kian menjamur di pasaran, semakin tinggi pula kasus obesitas di kalangan masyarakat.

  • Pewarna buatan

Zat pewarna makanan tidak memiliki efek lainnya yang menguntungkan selain hanya untuk mempercantik tampilan makanan saja. Zat pewarna makanan sintetis seperti tartrazine dan indigotine, diduga dapat memicu pertumbuhan sel kanker serta membawa komplikasi pada kalenjar andrenal. Pewarna sintetis kerap digunakan pada makanan anak‚Äďanak seperti permen gula, koktail buah, minuman ringan dan biskuit.

  • Minyak sayur terhidrogenasi

Minyak sayur terhidrogenasi atau lemak trans buatan, diproduksi dengan menggabungkan minyak nabati cair dengan hidrogen untuk membentuk lemak semi-padat atau padat. Lemak trans buatan yang ditemukan dalam makanan seperti margarin dan kue kering. Makan dengan lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (low-density lipoprotein), yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit jantung koroner.

  • Antioksidan sintetik

Butylated hydroxyanisole (BHA) dan butylated hydroxytoluene (BHT) merupakan antioksidan sintetis yang digunakan sebagai pengawet makanan. Keduanya secara signifikan memperpanjang masa simpan makanan yang mengandung lemak seperti minyak sayur, lemak hewan, perasa, rempah-rempah, kacang-kacangan, daging olahan dan makanan ringan, yang rentan terhadap kerusakan akibat efek oksidasi. Meskipun zat ini diyakini aman, kontroversi tentang penggunaannya kerap diperdebatkan. Salah satunya, BHA diduga kuat berpotensi menyebabkan pertumbuhan sel kanker.

Sumber gambar : solusinutrisi.org

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY