Cara Menentukan Diagnosis pada Penderita Keracunan Makanan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Mendiagnosis suatu penyakit memanglah sangat diperlukan. Hasil dari temuan penyakit atau diagnosis menentukan penyakit pada seseorang dan sebagai pengambilan keputusan untuk pengobatan yang diperlukan. Diagnosis juga diperlukan untuk menentukan seseorang yang mengalami keracunan makanan.

Dalam menegakkan diagnosa tentunya harus berdasarkan hasil dari  anamnesa atau mengajukan pertanyaan terkait riwayat-riwayat korban, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada pasien atau korban.

Seseorang dicurigai mengalami keracunan makanan jika sakit mendadak setelah beberapa saat makan atau minum. Disinilah anamnesa dilakukan dan untuk mendapatkan informasi diajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mendapatkan informasi.

Pertanyaan tersebut meliputi jenis makanan sebelum dan terakhir yang dimakan termasuk konsumsi daging atau telur setengah matang, konsumsi makanan laut mentah dan tempat makan yang tidak bersih.

Hal ini dapat dipastikan dengan menanyakan keluhan pada korban keracunan dan gejala apa saja yang dirasakan. Biasanya keluhan mengarah pada muntah-muntah, nyeri perut, diare ringan sampai akut dapat berlangsung kurang dari 2 minggu, tinja bercampur darah dan lendir, dehidrasi dan lemas atau lesu.

Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan fisik sederhana dilihat dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pemeriksaan ini untuk menentukan tingkat dehidrasi. Tanda pasti jika dehidrasi ringan yaitu mulut kering, tidak berkeringat, frekuensi dan volume cairan kencing sedikit. Jika dehidrasi sedang ditandai dengan penurunan tekanan darah, kulit kering atau elastisitas kulit berkurang dan mata cekung. Sedangkan dehidrasi berat timbul hipotensi atau tekanan darah rendah, nadi lemah dan syok.

Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan laboratorim juga diperlukan seperti pemeriksaan darah, urine, feses. Bahan atau spesimen yang diperlukan antara lain darah, urine, feses, peralatan memasak dan muntahan. Pemeriksaan darah berfungsi untuk memeriksa kadar elektrolit darah.

Dari sampel spesimen feses atau tinja dilakukan pemeriksaan mikroskopis untuk melihat adakah telur cacing, parasit dan untuk menentukan adanya bakteri seperti salmonella, shigella dan campylobacter karena bakteri ini yang berperan menyebabkan diare berdarah. Foto polos abdomen juga diperlukan untuk pasien dengan perut kembung, saki perut atau nyeri perut hebat. (MLD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here