Mengenal Kelainan Seksual Eksibisionisme

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Saat ini kejahatan marak terjadi di sekitar masyarakat. Salah satunya adalah kejahatan seksual. Pernahkah anda melihat seseorang yang tengah mempertontonkan kemaluannya tanpa malu atau disertai dengan perilaku masturbasi? Atau mungkin anda yang mengalami hal tersebut? Suka mempertontonkan/pamer alat kelamin bisa jadi itu adalah gangguan eksibisionisme!

Eksibisionis berasal dari kata exhibition yang artinya pameran, memamerkan atau mempertontonkan alat kelamin. Eksibisionis adalah dorongan fantasi sexual yang mendesak dan terus-menerus dengan memamerkan bagian genitalnya kepada orang lain. Dorongan tersebut bertujuan untuk menakuti, mengejutkan atau untuk dikagumi. Eksibisionisme adalah prefensi tinggi dan berulang untuk mendapatkan kepuasan seksual kepada orang yang tidak dikenal yang tidak menginginkannya kadang kepada seorang anak.

Gangguan ini umumnya berawal di masa remaja dan berlanjut hingga dewasa. Eksibisionis dapat terjadi pada pria maupun wanita. Pada pria, penderita menemukan kepuasaan saat melihat perempuan terkejut melihat genitalnya. Sedangkan pada wanita, penderita menemukan kepuasan melihat pria terangsang saat melihat alat kelamin, payudara atau pantatnya. Beberapa eksibisionis ditangkap atas kejahatan lain yang melibatkan kontak dengan korbannya. Eksibionis melakukan masturbasi ketika berfantasi atau ketika benar-benar memamerkannya. Eksibisionisme dapat dikategorikan sebagai paraphilia yang tergolong aneh tapi tidak langka.

Meskipun tidak ada yang tahu persis berapa banyak penderita eksibisionis yang ada di dunia, eksibisionisme adalah salah satu kejahatan seksual yang paling umum. Pasien ini hampir selalu laki-laki, dan korban-korban mereka hampir selalu anak perempuan atau perempuan dewasa.

Penyebab deviasi seksual ini antara lain kecenderungan penderita yang kuat terhadap keyakinan bahwa masturbasi itu berdosa sehingga dengan menjadikan masturbasi sebagai bagian dari eksibisi genital, maka masturbasi bukan menjadi aktivitas tunggal. Selain itu, orang eksibisionis biasanya mengalami rendah diri, tidak aman, tidak kuat dalam relasi sosial, serta memperoleh ibu yang dominan dan sangat protektif. Serta pada umumnya, eksitasi dari khalayak tempat penderita memamerkan alat kelaminnya justru menjadi faktor penguat bagi berulangnya perilaku eksibisi tersebut.

Selain itu, penyebab eksibisionis diduga karena perkembangan psikologis yang tak sempurna semasa anak-anak. Di mana saat itu si penderita mengalami perasaan rendah diri, tidak aman serta memiliki ibu yang dominan dan sangat protektif. Karena itu, penderita tidak bisa berinteraksi dengan lawan jenisnya. Pengalaman masa kecil tersebut dapat berkontribusi besar terhadap rendahnya tingkat keterampilan sosial dan harga diri, rasa kesepian dan terbatasnya hubungan intim.

Perilaku eksibisionis masuk kategori penyimpangan kejiwaan dalam hal seksual bila memamerkan organ seks untuk kepentingan pribadi. Mereka yang suka pamer organ seks lebih pas dimasukkan dalam kategori narcism, yang istilah merupakan orang yang suka memuja diri sendiri. Mereka merasa dirinya menjadi pusat perhatian sehingga tampilannya selalu mengundang perhatian. Umumnya pengidap eksibisionis rata-rata sudah menikah namun memiliki hubungan seksual yang tidak memuaskan dengan pasangannya.

Perlu dipahami bahwa pemberian obat-obatan akan diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi seksual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi tambahan untuk pendekatan psikologis. Berbagai pendekatan psikoterapi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi, karena pada penderita yang datang biasanya memiliki kecemasan.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY