Remaja Juga Beresiko Stroke

SehatFresh.com – Penyakit stroke adalah penyebab kematian ketiga setelah penyakit sistem kardiovaskuler dan kanker saat ini. Diperkirakan, terjadi 550.000 kasus baru setiap tahunnya. Stroke atau pecahnya pembuluh darah di otak bukan hanya bisa dialami oleh orang dewasa, anak dan remaja pun sama berisikonya mengalami penyakit fatal ini. Namun, penyebab stroke pada anak-anak maupun remaja tidak selalu sama seperti yang dialami oleh orang dewasa maupun orang tua. Stroke yang terjadi pada orang dewasa maupun orang tua biasanya dikarenakan terjadinya penyempitan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah karena faktor usia yang sudah lanjut atau bisa juga disebabkan tingginya kadar kolesterol dan trigliserida yang menyumbat pembuluh darah.

Menurut data World Health Organization (WHO), penyakit stroke merupakan penyebab kematian terbesar kelima pada usia 15 – 59 tahun. Pada anak-anak dan remaja, biasanya stroke dipicu oleh kelainan pembuluh darah otak yang disebut aterio venous malformation (AVM) dan anuerisma (penggelembungan pembuluh darah otak). Munculnya gelembung darah di otak tersebut terjadi karena tidak ada lapisan otot yang terbentuk pada pembuluh darah otak sehingga dinding menjadi tipis yang akhirnya menjadi menggelembung karena semburan aliran darah dalam waktu lama. Jika aneurisma telah pecah, hal tersebut mengakibatkan pendarahan di otak atau disebut stroke. Baik aneurisma atau AVM, keduanya mungkin tidak menimbulkan gejala secara langsung. Gejala paling sering yang dialami penderita biasanya adalah sakit kepala atau kejang-kejang. Karena itu, orang tua harus selalu waspada jika anak Anda sering mengeluh pusing atau sakit kepala di tempat yang sama.

Meningkatnya populasi remaja obesitas yang mengalami gangguan pada jumlah lipid pada darah (dislipidemia) bisa menyebabkan aterosklorisis yang mengarah pada stroke dini dan penyakit jantung koroner lebih cepat di kemudian hari. Obesitas adalah salah satu faktor risiko stroke. Pada kelompok anak, remaja, dan dewasa muda, obesitas akan berpengaruh pula pada perkembangan psikososial. Obesitas secara konsisten dihubungkan pula dengan kematian dini, penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan stroke.

Di sisi lain, teknologi canggih yang memengaruhi gaya hidup remaja masa kini juga telah dikaitkan dengan pengembangan stroke pada remaja. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang tidak sehat atau kurang aktif dan lebih banyak bermain gadget.  Staf Pengajar Program Okupasi Terapi Vokasi UI, Hermito Gideon, menyebutkn bahwa remaja yang sangat aktif menggunakan jari-jarinya untuk bermain smartphone atau gadget berpotensi mengalami penyumbatan dan pecahnya pembuluh darah. Hal ini dikarenakan kurangnya melakukan aktivitas produktif.

Kebiasaan lain yang tidak sehat pada remaja seperti  pola makan yang tidak teratur, diet menurunkan berat badan, terlalu banyak mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food) dan terlalu sering begadang telah dikaitkan dengan pengembangan stroke dini. Stress pada anak yang diakibatkan oleh beban pikiran yang berat karena hubungan sosial ataupun masalah pendidikan juga turut berperan dalam peningkatan risiko serangan stroke pada remaja.

Sebagian besar kasus stroke umumnya disebabkan oleh perilaku hidup yang kurang sehat. Hindari konsumsi makanan cepat saji. Jangan berlebihan dalam makan dan tingkatkan juga konsumsi berbagai buah dan sayuran. Lakukan olahraga secara rutin agar tubuh tetap bugar. Jika sangat sibuk, lakukanlah olahraga ringan dengan frekuensi yang rutin.

Sumber gambar : diarysepti.wordpress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here