Tingginya Risiko Keropos Tulang Pada Wanita Menopause

SehatFresh.com – Wanita menopause sangat rentan terkena osteoporosis. Mengapa? Perubahan hormon selama menopause mengganggu proses pembangunan tulang alami tubuh. Ketika wanita mencapai menopause, mereka berhenti berovulasi, menstruasi bulanan berhenti, dan tingkat estrogen menurun secara drastis. Padahal, estrogen membantu mempertahankan kalsium dalam tubuh dan mencegah kerusakan tulang. Para ahli juga menggarisbawahi bahwa kadar progesteron rendah di masa sebelum menopause juga dapat menghambat proses pembangunan dan perbaikan sel-sel tulang. Terganggunya proses ini dapat berdampak buruk pada kesehatan tulang dari waktu ke waktu.

Rata-rata, seorang wanita kehilangan 10% massa tulangnya selama transisi menopause. Massa tulang mencapai puncaknya pada usia 30 tahun. Setelah usia 35, hilangnya massa tulang secara bertahap terjadi lebih cepat. Wanita yang memiliki cukup massa tulang tidak mendapatkan kerugian dari proses ini, tapi mereka dengan pola makan yang buruk dan gaya hidup tidak sehat dapat kehilangan massa tulangnya secara berlebihan hingga 20%.

Osteoporosis akan meningkatkan risiko patah tulang yang bisa berakibat pada kecacatan. Sayangnya, osteoporosis sering terjadi tanpa gejala. Seseorang mungkin baru mengetahui memiliki osteoporosis ketika mereka mengalami patah tulang karena jatuh.

Terkait menopause, wanita menjadi sangat berisiko osteoporosis jika:

  • Mengalami menopause dini, sebelum usia 45 tahun.
  • Tidak menstruasi untuk waktu yang lama.
  • Menstruasi tidak teratur (menandakan tidak teraturnya ovulasi).

Osteoporosis awalnya bisa bermula dari keropos tulang minor, yang disebut osteopenia. Diagnosis osteopenia dibuat ketika pemeriksaan kepadatan tulang menunjukkan hasil yang lebih rendah di bawah rata-rata, tetapi tidak cukup rendah untuk dikatakan osteoporosis. Tes kepadatan tulang direkomendasikan untuk wanita pasca menopause yang mengalami patah tulang atau kondisi lain yang mengarah ke osteoporosis, wanita yang berusia di bawah 65 tahun dengan satu atau beberapa faktor risiko osteoporosis dan semua wanita pasca menopause di atas usia 65 tahun.

Terapi hormon bisa bermanfaat untuk pencegahan osteoporosis pada wanita pasca menopause. Namun, terapi hormon tidak lepas dari efek samping dan tidak semua wanita dapat atau harus menerima terapi hormon. Berdasarkan hasil sebuah studi besar, terapi hormon tidak lagi direkomendasikan semata-mata untuk tujuan mencegah terjadinya osteoporosis. Hal ini karena wanita yang menerima terapi hormon menjadi lebih berisiko mengalami pembekuan darah, stroke, dan kanker payudara.

Penurunan kepadatan tulang bisa dicegah sejak usia muda, yakni dengan pola makan sehat dan cukup kalsium (1.000-1.200 mg per hari), cukup berolahraga, dan cukup paparan sinar matahari (15 menit sekitar dua sampai tiga kali seminggu untuk mencukupi kebutuhan vitamin D yang akan memaksimalkan penyerapan kalsium dalam tubuh). Jika Anda memiliki faktor risiko osteoporosis, segera konsultasikan dengan dokter, agar mendapatkan rekomendasi pencegahan dan penanganan yang tepat.

Sumber gambar : mencegahpenyakit.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY