Akibat dari Mengalami Robekan Rahim

SehatFresh.com – Rahim dapat terluka dan sobek. Hal ini bisa di picu oleh beragam faktor, seperti riwayat melahirkan melalui sesar, kuret, operasi mioma, atau aborsi. Risiko robek rahim juga bisa meningkat, apalagi jika pada pembedahan sebelumnya sayatan yang dilakukan berbentuk vertikal atau bentuk T. Namun ada beberapa hal yang juga dapat meningkatkan risiko robek pada rahim, diantaranya kegemukan atau obesitas, kelainan pada rahim, dan kanker rahim.

Risiko robek rahim juga dapat meningkat akibat kehamilan itu sendiri. Misalnya hambatan lahir, robekan pada leher rahim, ari-ari yang lengket dan tidak dapat lepas dengan sendirinya, cairan ketuban berlebih, cacat pada janin, janin sungsang, penggunaan alat pada saat proses kelahiran, dan ibu yang punya riwayat melahirkan berkali-kali.

Jika Anda pernah melahirkan melalui operasi sesar, kesempatan untuk melahirkan secara normal masih terbuka lebar. Meski demikian, ibu-ibu tegar seperti ini harus sadar dan waspada jika sewaktu-waktu terjadi robekan rahim.

Gejala yang mungkin timbul pada saat terjadi robekan rahim, diantaranya perdarahan melalui vagina atau kencing kemerahan bercampur darah. Robekan juga menimbulakn nyeri mendadak dan berlangsung terus-menerus meski sedang tidak ada kontraksi. Kontraksi bisa menjadi tidak teratur sehingga persalinan juga menjadi terhambat. Terkadang gejala-gejala ini tidak selalu tampak jelas. Bahkan bukan tidak mungkin ibu tiba-tiba mengalami shock karena perdarahan. Jumlah darah yang keluar belum tentu sebanding dengan hebatnya robekan, karena bisa saja darah tidak keluar melainkan mengendap dirongga perut.

Pada janin, robekan rahim dapat menyebabkan penurunan detak jantung serta timbulnya tanda-tanda stres. Kondisi ini dapat membahayakan janin. Maka jangan lupa untuk mengingatkan dokter untuk selalu memantau keadaan janin. Seandainya nasib belum berpihak pada Anda, ada baiknya untuk mengurungkan niat melahirkan secara normal.

Gejala yang mesti dicermati ialah nafas dan denyut nadi yang meningkat drastis. Begitupun denyut jantung bayi yang melonjak dari 120 menjadi 160 per menit, atau malah sebaliknya melemah jadi 80 hitungan per menit. Pada dinding perut ibu pun muncul lingkaran yang disebut lingkaran Bandl, yakni benjolan di bagian bawah perut yang bisa diketahui oleh petugas kesehatan sebagai kelainan serius. Bila petugasnya tak cermat atau kurang terlatih, tanda-tanda tersebut memang sulit dideteksi. Sebaliknya, bila SDM yang bertugas, baik suster, bidan, maupun dokter yang menangani betul-betul terampil, ibu maupun janin harus bisa diselamatkan. Meski tindakan penanganan yang ditempuh sama-sama operasi, risikonya jauh lebih kecil.

Sebaliknya, kalau ruptura uteri sudah telanjur terjadi, ibu justru tak lagi merasakan sensasi apa pun, selain karena biasanya sudah jatuh pingsan, dan Hb-nya menurun drastis akibat mengeluarkan darah terlalu banyak. Janin pun sudah tak berada di tempatnya atau terloncat keluar dari rahim, sementara denyut jantungnya tak lagi terlacak atau malah sudah tak terdengar alias tak bernyawa. Kalau sudah demikian, menyelamatkan nyawa ibu tetap harus diperjuangkan.

Sumber gambar :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY