Alasan Dorongan Seksual pada Remaja Tinggi

0
5
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kaum remaja tergolong memiliki dorongan seksual yang tinggi. Hal ini tak terlepas dari berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Faktor-faktor apa sajakah itu?

  • Perubahan fisik

Saat memasuki usia pubertas, seseorang akan mengalami perubahan fisik yang mempengaruhi pula perubahan kehidupan seksualnya. Perubahan fisik ditandai dengan masaknya organ seksual. Kalau untuk perempuan, misalnya, mulai mengalami haid, membesarnya payudara, tumbuhnya bulu serta tampak lebih feminin dan menarik. Begitu pula dengan laki-laki yang mulai tumbuh bulu-bulu di sekitar alat kelaminnya, suaranya mulai berubah dan sebagainya.

  • Perubahan hormon

Masa pubertas remaja tak hanya mencakup aspek biologis, tapi juga psikologis. Secara biologis, perubahan yang terjadi adalah meningkatnya hormon seks. Kondisi biologis tersebut akan berpengaruh pada kondisi psikologis para remaja. Seperti dilansir dalam psikologikita.com, perubahan fisik tersebut membuat remaja ingin berekspresi dan mengeksplorasi dorongan seks. Dengan kata lain, bersamaan dengan pertumbuhan itu, timbul pula dorongan seks di mana hal itu adalah sesuatu yang alamiah dialami setiap manusia yang sudah pubertas.

  • Rasa penasaran

Salah satu hal yang bikin remaja memiliki dorongan seksual tinggi adalah datang dari diri mereka sendiri. Rasa penasaran dan rasa ingin tahu itu memang wajar muncul dalam diri tiap remaja. Sayangnya, emosi yang masih labil bisa membuat remaja menyalurkan dorongan seksual itu dengan cara yang salah, misalnya tindakan asusila.

Terlebih, remaja sebagai individu yang cukup labil bisa sangat mudah terpengaruh lingkungan sekitarnya. Rasa ingin tahu dan kurangnya pemahaman yang benar tentang seks akan membuat mereka semakin rentan terhadap seks bebas dan akibat-akibat lain yang ditimbulkannya.

Menurut Psikolog Alva Handayani, dorongan seksual yang berbentuk energi itu menimbulkan kebutuhan akan media penyaluran. “Dorongan seks yang tinggi dengan kondisi emosi labil menyebabkan ketidakseimbangan remaja itu. Cara mereka berpacaran pun akan menjadi media penyaluran,” ujarnya.

Alva menambahkan, hal ini tidak lepas dari peran media televisi, video, dan internet yang disalahgunakan oleh para remaja. Apalagi, tidak sepanjang waktu orang-orang terdekat seorang remaja bisa mengawasi kegiatan yang ia lakukan.

Kendati demikian, kata Alva, ada beberapa faktor yang dapat mencegah anak atau remaja agar tidak terlibat pergaulan bebas ataupun melakukan hubungan seks pada usia dini. “Salah satunya adalah bekal pengetahuan dari orangtuanya,” katanya. Ia mengakui, pernyataan itu memang terdengar klise, tetapi pada kenyataannya orangtua sangat berpengaruh pada perkembangan anaknya.

Keterlibatan orangtua secara aktif itu diharapkan dapat membantu remaja untuk keluar dari masalah dalam pergaulan bebas, khususnya risiko yang dialami akibat melakukan hubungan seks pada usia dini. (SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY