Bullying Dikalangan Remaja

SehatFresh.com – Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada masa ini, remaja akan melalui fase di mana mereka mencapai kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis, di mana mereka mencari jati diri mereka. Bila proses pencarian jati diri ini gagal, maka yang terjadi adalah remaja mulai meragukan peranan dan fungsi dirinya di tengah masyarakat. Akibatnya, mereke cenderung memiliki sifat menonjolkan diri, suka bermusuhan, egoistik, merendahkan orang lain, dan berburuk sangka.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kekerasan terhadap anak atau remaja yang dikenal dengan istilah bullying di sekolah semakin marak. Bullying merupakan salah satu tindakan agresi yang dilakukan satu orang dengan tujuan untuk menyakiti atau mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya. Mereka yang menjadi korban bullying kemungkinan akan menderita depresi dan kurang percaya diri, yang mana pada akhirnya korban bullying menjadi kesulitan dalam bergaul.

Ada beberapa bentuk dari tindakan bullying. Bullying dalam bentuk fisik bisa dicontohkan seperti memukul, mendorong, mengancam secara fisik, memelototi, dan mencuri barang. Bullying dalam bentuk psikologis bisa bermanifestasi seperti, mengucilkan, menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-ngolok dan mengasingkan seseorang secara sosial. Sementara itu bullying dalam bentuk verbal bisa hadir dalam bentuk hinaan, bentakan, menggunakan kata-kata kasar, menyindir, dan memanggil dengan julukan. Di era serba modern seperti sekarang ini bahkan tindakan bullying juga menjadi “terfasilitasi” dengan gadget dan media sosial (cyberbullying).

Ternyata, efek dari bullying tidak hanya berpengaruh pada saat anak mengalaminya saja. Penelitian dari Boston Children’s Hospital mengungkap bahwa efek bullying bisa membekas lebih lama, bahkan bertahun-tahun, pada mental dan fisik yang menjadi korban bullying. Penelitian telah mengungkap bahwa tindakan bullying dapat menyebabkan dampak yang buruk pada kesehatan anak. Tindakan bullying juga telah dikaitkan dengan kesehatan mental dan fisik yang terus menurun. Anak korban bullying akan lebih rentan mengalami depresi dan rasa percaya diri yang rendah. Selai itu, penelitian juga menemukan bahwa kemampuan otak anak yang terkena bullying akan mengalami penurunan. Hal tentunya berdampak besar pada prestasi belajar anak di sekolah.

Penelitian menunjukkan bahwa kasus bullying di sekolah terjadi karena minimnya pengawasan pada waktu istirahat, peraturan terhadap kasus bullying tidak konsisten ditegakkan dan pemahaman atau persepsi yang berbeda antara guru dan siswa dalam menghadapi kebiasaan bullying. Terkait hal ini, sekolah perlu menggiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi dan menjamin rasa aman bagi anak lainnya.

Maka dari itu, fenomena bullying ini sepatutnya menjadi perhatian. Sebagai upaya mencegah tindakan bullying, maka perlu adanya perhatian dari keluarga dan pihak–pihak terkait, yang mana dalam hal ini adalah pihak sekolah. Karena memiliki dampak psikiatrik yang banyak, mulai dari emosi, fisik, akademik, kepercayaan diri, perilaku koban, psikotik, bahkan hingga bunuh diri, kasus kekerasan di kalangan remaja harus ditangani secara serius melibatkan pihak sekolah, orang tua dan masyarakat.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang baik, akan tumbuh menjadi generasi yang stabil, optimis serta emosional. Hal ini berarti perilaku orang tua dan keluarga secara otomatis akan membentuk pribadi dan mental anak dan lingkungan sekitar pun turut memengaruhinya. Bila anak cukup mendapat perlindungan dan perhatian dari orang-orang terdekat, anak akan bisa menghadapi ancaman dari luar dengan optimis.

Anak-anak dan kaum remaja memiliki jiwa yang masih labil sehingga mereka membutuhkan bimbingan terutama dari para orang tua dan keluarga. Langkah pencegahan lebih baik tentunya akan sangat baik bila dilakukan sedini mungkin untuk mencegah kerusakan moral yang memicu anak-anak dan para remaja mengalami kondisi frustasi yang bisa berakibat fatal untuk masa depannya.

Sumber gambar : pimasiimangunsong.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY