Cara Mengatasi Ketakutan Pada Anak

SehatFresh.com Setiap anak pasti memiliki rasa takut. Ketakutan ini pada dasarnya wajar, namun terkadang ada juga yang dirasa tidak wajar. Dalam hal ini, orang tua perlu membantu anak mengatasi rasa takutnya. Meski terkesan sepele, namun sebenarnya mampu tidaknya orang tua membantu anak untuk mengatasi ketakutan anak akan berdampak besar di kemudian hari. Anak yang kurang berhasil mengatasi ketakutan-ketakutan masa kecilnya, biasanya cenderung menjadi penakut dan kurang percaya diri di masa dewasanya. Begitu pula sebaliknya, anak yang dapat mengatasi ketakutan masa kecilnya biasanya tumbuh menjadi berani dan lebih percaya diri.

Penelitian yang pernah dilakukan di Amerika Serikat menujukkan bahwa berbagai ketakutan yang ada dalam diri orang dewasa berkaitan dengan ketakutan yang ia alami di masa kecilnya.  Ketakutan yang umum pada anak diantaranya takut gelap, takut sendirian, takut terhadap penolakan, takut  gagal, takut dokter, takut binatang, takut berbuat salah dan lain sebagainya. Di masa kanak-kanak, rasa takut dapat muncul terkait perkembangan interaksi dan lingkungan.

Ketakutan yang dialami oleh anak dipengaruhi oleh rasa tidak nyaman, khawatir dan kepanikan. Ketakutan yang dialami oleh anak biasanya lebih berbentuk ketakutan pada perpisahan atau bertemu orang yang baru dikenalnya. Rasa takut merupakan suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Beberapa ahli psikologi menyatakan bahwa rasa takut merupakan emosi dasar yang selaras dengan kesedihan, kemarahan dan kebahagian. Memiliki rasa takut dinilai wajar asalkan tidak berlebihan karena pada dasarnya rasa takut dapat diatasi dengan menjalin hubungan dan dukungan dari orang terdekat, terutama orang tua.

Rasa takut muncul pada anak dalam usia yang berbeda-beda. Rasa takut terkadang muncul saat anak terlalu banyak berimajinasi terhadap sesuatu, misalnya saat berada pada tempat yang gelap seorang anak merasa takut karena membayangkan berbagai hal yang tiba-tiba muncul saat berada di tempat gelap tersebut. Terkadang, ada kalanya orang tua sudah kehabisan akal untuk mengatur anaknya, dan akhirnya menakut-nakuti anak secara berlebihan agar ia menurut. Misalnya mengacam kalau tidak mau makan nanti akan disuntik dokter, atau semacamnya. Bila hal seperti ini terus berlanjut, dikhawatirkan anak malah menjadi penakut. Seharusnya, apa yang ditanamkan pada anak adalah supaya anak berhati-hati ketika melakukan sesuatu, bukan menggali ketakutan terhadap imajinasinya tentang dokter, monster dan hal lainnya yang dirasa mengancam dirinya.

Saat merasa takut, anak tentunya mencari seseorang yang bisa meredakan rasa takutnya untuk dijadikan sebagai pelindung. Orang tua hendaknya menjadi teman bicara saat mereka merasa takut. Cobalah untuk membuatnya bercerita mengenai rasa takutnya. Ketakutan anak terkadang dianggap tidak masuk akal serta terkesan mengada-ada bagi orang dewasa. Akan tetapi, orang tua harus berusaha mengerti apa yang dirasa dan ada dalam bayangan anak. Dengarkanlah cerita anak,  biarkan ia mengutarakan semuanya sampai selesai. Setelah itu, carilah secara spesifik hal apa yang sebenarnya menjadi penyebab rasa takutnya. Berikanlah empati baginya sehingga ia merasa didukung. Empati ini pasti akan memperkuat ikatan orang tua dengan anak. Ketika anak merasa bahwa orang tuanya sangat mencintainya, maka iapun merasa bahwa orang tuanya akan selalu ada untuk dirinya. Kedekatan emosional ini dapat menghilangkan rasa takut anak secara perlahan.

gambar : novigusman.blogspot.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY