Dyspraxia Pada Anak

A frustrated, upset child, or child with learning difficulties.

Dyspraxia adalah gangguan yang mempengaruhi perkembangan keterampilan motorik dan koordinasi. Dyspraxia adalah kondisi seumur hidup yang biasanya muncul dengan sendirinya pada anak usia dini. Anak dengan dyspraxia memiliki masalah dengan berbicara, persepsi, emosi, gerakan, bahasa dan keterampilan sosial. The American National Center for Learning Disabilities menyatakan bahwa 6 persen anak-anak memiliki dyspraxia, 70 persen penderitanya adalah anak laki-laki.

Apa yang menjadi penyebabnya?
Perkembangan neuron motorik yang buruk dapat menyebabkan dyspraxia pada beberapa anak. Neuron motorik adalah sel-sel saraf yang mengirimkan sinyal dari otak ke otot-otot yang memungkinkan terjadinya gerakan. Neuron motorik mungkin tidak membentuk koneksi yang tepat yang dibutuhkan untuk memungkinkan gerakan jika sel-sel saraf bayi menjadi cacat atau rusak saat berada di rahim ibu atau jika bayi lahir sebelum sel-sel saraf terbentuk dengan baik. Jika neuron motorik gagal untuk mengembangkan hubungan yang memadai maka otak tidak dapat mengirim pesan ke otot-otot yang memungkinkan gerakan. Dalam beberapa kasus, sinyal dari otak tidak berhasil mencapai otot, hal inilah yang menyebabkan kelumpuhan atau tidak adanya respons.

BBC Health menyatakan bahwa kekurangan oksigen sebelum atau selama kelahiran, atau kerusakan otak akibat stroke, sakit atau kecelakaan, dapat berkontribusi terhadap pengembangan dyspraxia. Komplikasi kehamilan, penyakit atau penyalahgunaan obat-obatan ketika ibu sedang hamil dapat menyebabkan kerusakan otak yang mengakibatkan dyspraxia. Kabar baiknya, dsypraxia yang terjadi sebagai akibat dari cedera otak dapat diperbaiki dengan waktu, latihan dan terapi.

Penelitian juga menyebutkan bahwa dyspraxia cenderung berjalan dalam keluarga, sehingga mungkin ada hubungan antara genetika dan dyspraxia. Selain itu, orang yang lahir dengan kondisi lain, seperti sindrom Down atau kecacatan membaca, mungkin lebih beresiko untuk mengembangkan dyspraxia.

Masalah gerakan
Karena mengganggu keterampilan motorik, anak dengan dyspraxia cenderung buruk dalam hal keseimbangan dan koordinasi serta kaku saat berjalan. Gejala-gejala tersebut dimulai ketika pasien masih muda. Di masa kanak-kanak, pasien memiliki masalah berjalan dan melempar. Ketika bergerak, ia menabrak benda-benda, seperti kursi dan mengalami disorientasi. Anak juga memiliki masalah melakukan tugas-tugas yang membutuhkan gerakan motorik halus, seperti mengikat tali sepatu. Ketika mencapai usia sekolah, masalah gerakan ini menghambat penampilannya dalam aktifitas fisik. Menginjak usia dewasa, pasien mengalami kesulitan dengan tugas-tugas, memasak dan perawatan pribadi.

Kesulitan bahasa
Dyspraxia juga mempengaruhi kemampuan bahasa, yang dapat berpengaruh pada situasi sosial. Di masa kecil, pasien mengalami keterlambatan bicara dan kesulitan dengan bahasa tertulis. Ketika pasien berbicara, bahasanya akan sulit untuk dipahami. Selama sekolah, masalah dengan bahasa penulisan berkembang menjadi kesulitan membentuk huruf dan menulis lambat. Keterlambatan bahasa akibat dyspraxia juga dapat menyebabkan kecanggungan sosial. Anak juga cenderung mengalami masalah dengan membaca dan memori jangka pendek, yang pada akhirnya mengganggu kinerja akademik.

Masalah perilaku dan emosional
Anak dengan dyspraxia mungkin memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata, tapi dia mungkin bertindak tidak dewasa. Selain masalah emosional dan perilaku, gangguan kecemasan tertentu dapat berkembang. Pasien bisa mengalami fobia, di mana ia memiliki rasa takut tertentu, dan menunjukkan perilaku obsesif.

*pic www.mausehat.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY