Emboli Air Ketuban Pasca Melahirkan

Setelah melahirkan, salah satu resiko yang mungkin terjadi pada ibu hamil adalah terganggunya sirkulasi darah karena adanya sesuatu yang menghambat pasokan oksigen ke seluruh tubuh setelah melahirkan. Dalam dunia medis, penyumbatan sirkulasi darah karena benda asing ini dikenal dengan istilah emboli. Pada dasarnya, emboli adalah suatu kondisi di mana ada benda asing yang masuk dan terbawa aliran darah sehingga mengakibatkan penyumbatan aliran darah ke suatu organ. Penyebab penyumbatan ini umumnya berupa partikel yang kecil yang lepas atau pecah dari bagian tubuh lain yang kemudian terbawa bersama aliran darah sampai akhirnya menyangkut di pembuluh darah yang terlalu sempit untuk dilewati.

Emboli tidak hanya terjadi pada ibu seusai persalinan, tapi juga dapat terjadi pada siapapun dalam kondisi tertentu yang mengakibatkan oksigen terhambat sehingga sistem tubuh menjadi terganggu. Penyumbatan pembuluh darah pasca melahirkan bisa disebabkan oleh air ketuban, udara, lemak, trombus (darah beku), rambut bayi, bahkan feses bayi serta komponen lain. Kasus emboli yang terjadi pada ibu melahirkan biasanya disebabkan oleh masuk atau merembesnya air ketuban ke dalam pembuluh darah. Air ketuban ini akan menempel di bagian-bagian tubuh tertentu seperti otak, paru-paru dan bahkan jantung. Air ketuban yang mengkontaminasi pembuluh darah akan menghambat aliran oksigen sehingga terjadi penyumbatan. Hal ini bisa terjadi pada siapapun termasuk pada ibu yang tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Namun, ada beberapa kondisi yang meningkatkan terjadinya emboli setelah melahirkan. Sebagian besar penderita emboli air ketuban ada yang selamat, namun sebagian besar dari mereka menderita gangguan neurologis.

Reaksi emboli terjadi paling lama 48 jam dan paling cepat 30 menit usai kelahiran. Lamanya reaksi timbul bergantung pada luka (inflamasi) yang timbul akibat hambatan sirkulasi. Semakin parah inflamasi yang timbul, maka reaksi makin cepat. Inflamasi diakibatkan antigen bayi yang masuk ke dalam sirkulasi maternal. Berdasarkan penelitian, gejala paling yang sering timbul akibat emboli adalah hilangnya kesadaran ibu atau kejang. Gejala ini terjadi pada 35 persen kasus. Kemudian ibu juga berpeluang mengalami colaps dengan resiko sebesar 23 persen. Sedangkan 14 persen kasus lainnya ditandai dengan menurunnya tekanan darah, nafas memendek, dan bradikardi janin. Selain itu masih ada colaps akibat persalinan normal atau caesar dengan persentasi yang sama.

Sebenarnya kasus emboli tidak hanya terjadi pada saat proses persalinan saja, tapi bisa saja saat kehamilan atau beberapa waktu setelah melahirkan. Tidak hanya saat proses persalinan caesar saja, saat persalinan normal atau normal dengan tindakan (vakum, forceps) pun kasus emboli ini bisa saja terjadi.

Emboli pada dasarnya tidak dapat diprediksi kapan munculnya meskipun dalam keadaan normal sekalipun resikonya tetap mungkin terjadi. Namun, emboli dapat dicegah dengan mendiagnosis penyakit yang dapat memicu emboli. Meskipun jenis emboli memiliki perbedaan sesuai dengan area yang mungkin terjadinya hambatan, akan tetapi ibu hamil dapat melakukan tindakan preventif untuk memperkecil resikonya. Pemeriksaan antenatal (terjadwal, terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik) pada ibu hamil merupakan salah satu cara untuk mengetahui kemungkinan terjadinya resiko emboli cairan ketuban.

*pic angiologist.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here