Kelainan Mata Pada Anak

SehatFresh.com – Kurangnya pengetahuan orang tua menyangkut kesehatan mata anak seringkali membuat mereka tidak menyadari kerusakan dan kelainan mata anak-anaknya. Pada dasarnya, tahapan perkembangan mata anak tidak selalu sama. Secara umum, perkembangan sistem penglihatan pada anak memasuki fase perkembangan yang pesat di usia 18 bulan dan fase sempurna di usia lima hingga enam tahun. Sebelum perkembangan mata memasuki fase sempurna, mata anak terutama pada bayi yang lahir prematur sangat sensitif terhadap kelainan dan kerusakan mata, seperti:

  • Kelainan refraksi

Kelainan refraksi adalah kelainan mata yang menyebabkan terjadinya salah bias sehingga penglihatan menjadi kabur. Kelainan refraksi meliputi rabun dekat (hiperopia), rabun jauh (miopis), dan silinder (astigmatisme). Gejala sering ditunjukkan oleh anak yang memiliki kelainan refraksi adalah seringnya menyipitkan mata ketika sedang menatap objek dari jarak dekat ataupun jarak jauh.

Menurut University of Rochester Medical Center, kelainan refraksi (miopia dan hiperopia) cenderung diwariskan oleh keluarga. Berbagai pola pewarisan telah diamati, yaitu dominan (satu gen diteruskan dari orang tua dengan kelainan refraksi) dan resesif (disebabkan oleh dua gen, satu diwariskan dari setiap orangtua yang mungkin atau mungkin tidak memiliki kelainan refraksi). Kelainan refraksi seringkali dimiliki oleh anak dengan kelainan genetik, seperti sindrom marfan dan sindrom down. Selain karena gen, kelainan refraksi juga dipengaruhi faktor lingkungan atau kombinasi gen dan lingkungan.

  • Strabismus

Strabismus atau mata juling ditandai dengan posisi mata yang tidak sejajar. Ada beberapa bentuk gejala strabismus, yaitu esotropia (satu atau kedua mata mengarah ke hidung), eksotropia (satu atau kedua mata mengarah keluar), hipertropia (satu atau kedua mata menatap ke atas) dan hipotropia (satu atau kedua mata menatap ke bawah).

Strabismus merupakan akibat dari kegagalan otot mata untuk bekerja sama. Otak mengontrol otot-otot mata yang melekat pada bagian luar masing-masing mata. Terkait ini, strabismus tampaknya lebih sering terjadi pada anak dengan gangguan yang memengaruhi otak, seperti cerebral palsy atau hidrosefalus. Semua bentuk strabismus cenderung diwariskan oleh keluarga. Saudara dan anak-anak dari seorang yang memiliki strabismus menjadi lebih berisiko terhadap kelainan mata ini.

  • Amblyopia

Strabismus seringkali berkembang menjadi amblyopia. Amblyopia atau mata malas disebabkan oleh tidak normalnya perkembangan mata pada masa balita. Kondisi ini berkembang ketika jalur saraf antara otak dan mata tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, otak hanya mendukung satu mata dan kemampuan penglihatan mata lainnya menjadi buruk. Mata malas telah menjadi penyebab tertinggi penurunan ketajaman penglihatan pada anak yang sifatnya bisa permanen. Bayi yang lahir prematur, bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan anak yang memiliki riwayat keluarga katarak menjadi lebih berisiko terhadap kelainan mata ini.

Secara umum, kelainan-kelainan mata pada bayi dapat dikenali dengan:

  • Dalam satu minggu pertama setelah kelahiran, pandangan bayi cenderung menghindari cahaya.
  • Bayi belum menatap wajah ibunya di usia satu hingga dua bulan.
  • Bayi belum mampu melihat tangannya dan belum merespon objek yang selalu sering ia temui di usia tiga bulan.
  • Bayi belum mampu membedakan mana wajah yang akrab dan tidak akrab baginya di usia enam bulan.
  • Bayi belum bisa merespon dan bereaksi terhadap gerakan atau merespon objek yang tiba-tiba hilang dari pandanganya di usia sembilan bulan.

Pada anak yang lebih besar (usia sekolah), kelainan mata dapat dikenali dengan:

  • Sering duduk terlalu dekat dengan layar televisi saat menonton.
  • Anak selalu membaca dengan jarak yang terlalu dekat.
  • Sering menyipitkan mata ketika melihat objek dekat atau jauh.
  • Kesulitan melihat objek jarak jauh.

Sumber gambar : mata-fkui-rscm.org

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY