Membangun Kebiasaan Kreatif dan Inovatif

0
4
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kreatif dan inovatif bukan merupakan bakat. Keduanya bisa dilatih sehingga menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini bisa dipupuk sedari masa remaja.

Saat kreativitas dibiasakan, ia akan berkembang. Dan saat ia berkembang, kita akan terus menghasilkan inovasi. Jadi, alurnya memang membiasakan diri untuk kreatif terlebih dahulu, baru akan tercipta hal-hal inovatif.

Membangun kebiasaan kreatif dan inovatif bisa dimulai dari bangun lebih pagi. Terdengar sepele, memang. Tapi, hal itu terbukti. Udara pagi terasa sangat segar. Pikiran masih jernih. Kita bisa berpikir dengan tenang dan bening. Kata Benjamin Franklin, saat kita tidur lebih awal dan bangun lebih pagi, kita akan menjadi lebih sehat, makmur, dan bijaksana. CEO Disney Robert Iger juga terbiasa bangun pagi pada jam 04.30. Ia menikmati masa sunyi dan lengangnya untuk ‘mengisi ulang baterai’ kreativitasnya.

Selanjutnya, biasakan otak dan tindakan untuk memahami lingkungan di sekitar Anda. Masalah utama mengapa kita sulit berpikir kreatif adalah faktor kebiasaan berpikir dan juga bertindak. Kreatif itu hasil dari pola pikir yang berbeda dari apa yang kita lakukan sehari-hari. Artinya, perbedaan mendasar dari orang kreatif dan nonkreatif adalah orang yang kreatif sering melatih otaknya. Otaknya sering dibiasakan untuk berpikir kreatif agar bisa mendapatkan jawaban yang berbeda dengan jawaban yang sudah ada, sedangkan nonkreatif tidak melakukannya.

Orang kreatif juga senantiasa mencatat hal-hal kecil. Pikiran seseorang akan terasa sesak bila tidak dituangkan dalam wadah tertentu. Cobalah sesekali menulis blog, catatan di Facebook, atau sekadar corat-coret di notebook. Cara paling mudah agar ide kreatif tidak berlalu begitu saja adalah dengan mencatatnya pada sebuah buku catatan kecil atau sejenisnya. Jika Anda memang menerapkan ini, maka laihatlah dalam beberapa hari berapa banyak ide menarik yang sudah Anda kumpulkan.

Orang yang kreatif dan inovatif juga tak terlalu kerasan di zona nyamannya. Cobalah sesekali untuk ‘melawan’ apa yang kita suka. Pergi ke tempat yang tak pernah terpikirkan, membeli buku yang tak pernah kita pikirkan akan membelinya, membaca majalah yang sama sekali tak menarik minat adalah beberapa contoh kecilnya. Hal-hal seperti ini bisa menambah sudut pandang kita untuk memaknai dunia.

Dalam kondisi tertentu, kita juga perlu didorong untuk keluar dari comfort zone dengan melibatkan pihak eksternal, misalnya training atau seminar yang kita ikuti. Dengan mengikuti kegiatan seperti itu, kita akan menangkap ide-ide yang selama ini tak terlintas di pikiran kita sekalipun. Menjemput hal-hal baru, aneh, asing, dan sama sekali bertentangan dengan diri akan menghadirkan antusiasme yang aneh. Dan, sensasi itu, sesekali perlu dihadirkan.

(SBA)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY