Mengenal Kelainan Phimosis

www.argaaditya.com

SehatFresh.com – Phimosis merupakan istilah yang menggambarkan kondisi di mana kulup pada penis yang tidak disunat tidak dapat ditarik kembali dari kepala penis. Kondisi ini normal pada bayi dan balita. Namun, pada anak yang lebih tua, phimosis mungkin merupakan hasil suatu kondisi kulit yang menyebabkan jaringan parut. Hal ini biasanya tidak masalah kecuali bila menimbulkan masalah lain. Pengobatan segera diperlukan dalam kasus-kasus di mana phimosis menyebabkan masalah seperti kesulitan buang air kecil.

Phimosis dibagi menjadi dua bentuk, yaitu:

  • Phimosisi fisiologis: Kebanyakan bayi laki-laki yang tidak disunat memiliki kulup yang tidak akan menarik kembali (menarik kembali) karena masih melekat pada kepala penis. Hal ini normal selama sekitar dua sampai enam tahun pertama. Sekitar usia dua tahun, kulup seharusnya mulai terpisah secara alami dari kepala penis. Namun, kulup beberapa anak laki-laki terpisah lebih lama. Hal ini tidak berarti ada masalah, hanya saja pemisahannya lebih lambat
  • Phimosis patologis: Pada anak yang lebih tua, phimosis dapat terjadi karena jaringan parut, infeksi atau peradangan. Penarikan kulup yang dipaksakan dapat menyebabkan perdarahan, jaringan parut, dan trauma psikologis. Apabila di usia enam atau tujuh tahun phimosis masih ada dan menyebabkan masalah penis pada anak, maka dibutuhkan penanganan guna mencegah timbulnya komplikasi yang lebih serius.

Selain dapat menimbulkan rasa sakit saat buang air kecil, gejala lain dari phimosis ditandai dengan:

  • Bagian depan penis yang menggelembung
  • Aliran urin tidak lancar
  • Demam tinggi
  • Iritasi pada penis
  • Perubahan warna penis

Phimosis yang dibiarkan dapat menyebabkan penumpukan smegma (kotoran hasil sekresi kelenjar kulup) di sekitar kepala penis. Penumpukan smegma meningkatkan risiko penyebaran berbagai bakteri yang dapat menyebabkan peradangan pada penis. Bila dibiarkan, ini bisa menimbulkan kondisi kesehatan lain yang lebih serius. Komplikasi yang paling serius adalah kanker penis.

Pria dewasa yang tidak disunat lebih berisiko memiliki phimosis. Phimosis patologis dapat muncul di kemudian hari akibat kebersihan organ intim yang tidak terjaga. Selain itu, penggunaan aksesori penis yang berbahaya juga dapat menyebabkan phimosis. Adanya jaringan parut karena koreksi phimosis fisiologis yang dipaksakan, serta penindikan penis juga meningkatkan risiko mengembangkan phimosis.

Jika phimosis pada anak-anak yang lebih tua atau orang dewasa tidak menyebabkan masalah yang akut dan parah, tindakan non-bedah mungkin efektif. Pilihan pengobatan seringkali ditentukan dengan melihat perlu tidaknya khitan dilakukan.

  • Krim steroid seperti betametason, mometason furoat dan kortison efektif dapat dijadikan sebagai langkah awal pengobatan phimosis, dan telah terbukti efektif dalam beberapa kasus phimosis orang dewasa.
  • Terapi peregangan dilakukan dengan melakukan peregangan kulup secara bertahap setelah mandi air hangat selama lima sampai┬ásepuluh menit setiap hari. Akan tetapi, peregangan ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari luka yang dapat menyebabkan pembentukan parut.
  • Para dokter sepakat dengan menyarankan khitan sebagai solusi utama untuk menghilangkan masalah phimosis secara permanen pada anak yang lebih tua, terutama bagi anak yang mengalami kegagalan kulup untuk melonggar selama proses pertumbuhan. Rekomendasi ini diberikan terutama bila phimosis telah menimbiulkan masalah seperti kesulitan buang air kecil atau adanya peradangan di kepala penis (balanitis).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY