Penanganan Pertama Mimisan Pada Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Mimisan adalah masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai di kalangan anak-anak. Secara medis disebut epistaksis, mimisan umumnya merupakan akibat dari pecahnya pembuluh darah kecil di dalam hidung. Ketika mimisan, darah dapat keluar dari salah satu atau kedua lubang hidung dengan durasi yang berbeda-beda. Pada anak-anak, mimisan seringkali disebabkan oleh kegiatan tak berbahaya seperti mengupil, mengeluarkan ingus terlalu kuat, dan memasukkan sesuatu ke hidung ketika bermain. Perdarahan biasanya minim dan singkat (durasinya kurang dari sepuluh menit).

Berdasarkan lokasi pendarahannya, mimisan dikategorikan menjadi anterior (bagian depan) dan posterior (bagian belakang). Kebanyakan kasus mimisan pada anak termasuk ke dalam kategori anterior, di mana pendarahan terjadi dari bagian depan hidung. Sedangkan pada mimisan posterior, pendarahan berasal dari pembuluh darah yang terletak di bagian belakang hidung, seperti langit-langit mulut dan rongga hidung. Mimisan ini lebih sering dialami oleh orang dewasa, dan volume darah yang keluar cenderung lebih banyak.

Mimisan pada anak dianggap ringan dan tidak berbahaya selama tidak disertai gejala demam dan tubuhnya dalam kondisi sehat. Dalam kebanyakan kasus, mimisan akan berhenti dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan medis. Namun, mimisan harus ditangani dengan segera guna mencegah kehilangan darah lebih lanjut. Ketika anak mimisan, prioritas utama adalah untuk mengontrol perdarahan agar tidak banyak darah yang hilang.

Penanganan pertama yang dapat dilakukan saat anak mimisan, meliputi:

  • Duduk tegak. Ketika mimisan, posisikan anak untuk duduk bukannya berbaring. Membaringkan anak ketika mimisan hanya akan meningkatkan tekanan darah di kepala sehingga mimisan bisa semakin parah. Posisi duduk tegak ini juga ditujukan guna mencegah anak menelan darah, yang dapat mengiritasi perut dan membuat anak ingin muntah.
  • Condongkan tubuh ke depan. Ini dapat membantu mencegah agar darah tidak masuk ke tenggorokan dan tertelan.
  • Jepit hidung. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menjepit hidung selama lima sampai 10 menit. Ini bertujuan untuk mengirimkan tekanan ke titik perdarahan pada septum hidung dan untuk menghentikan pendarahan.
  • Kompres es. Terapkan ice pack atau kompres dingin pada pangkal hidung untuk memperlambat pendarahan.
  • Ludahkan darah yang tertelan. Mintalah anak untuk segera meludahkan darah mimisan dari hidung yang tertelan ke dalam mulut. Ini dapat membantu menghindarkan anak dari keinginan muntah.
  • Banyak istirahat. Istirahatkan anak dan jangan sampai ia melakukan aktivitas berat selama 12 -24 jam setelah mimisan berhenti.
  • Jangan memberi anak minuman atau makanan panas, ataupun mandi air panas setidaknya selama 24 jam setelah mimisan berhenti.

Dalam beberapa kasus, mimisan mengindikasikan adanya kondisi medis serius yang mendasarinya. Jika anak mengalami mimisan yang berlangsung lebih dari 20 menit, anak sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit. Gejala lain yang menandakan mimisan memerlukan penanganan medis segera, meliputi:

  • Mimisan berat yang tampak dari banyaknya darah yang keluar.
  • Mimisan disertai kesulitan bernapas.
  • Anak menelan banyak darah sehingga membuatnya muntah.
  • Mimisan terjadi setelah cedera serius, seperti akibat kecelakaan mobil.

Untuk meredakan mimisan yang sulit dihentikan dengan teknik rumahan, dokter mungkin menyarankan:

  • Penggunaan krim atau salep yang diformulasikan secara khusus untuk memperlambat aliran darah ke dalam hidung anak.
  • Penggunaan kauter, yaitu bahan kimia khusus untuk “membekukan atau membakar” pembuluh darah untuk menghentikan pendarahan. Prosedur ini disebut kauterisasi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY