Penyebab Anak Masih Mengompol

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Mengompol merupakan hal umum bagi anak-anak. Mengompol lebih sering dialami anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Kondisi ini terjadi pada 30% anak-anak pada usia 4, 10% pada usia 6, dan turun menjadi 1% pada usia 18 tahun. Meskipun kontrol kandung kemih setiap anak berbeda, sebagian besar anak laki-laki dapat mengontrol kandung kemih mereka selama siang dan malam pada usia 6 tahun, dan sebagian besar anak perempuan pada usia 5 tahun. Ketika seorang anak buang air kecil secara tidak sengaja dan terjadi secara berulang ketika sedang tidur, kondisi tersebut disebut enuresis nokturnal.

Ada dua jenis utama enuresis nokturnal yaitu primer dan sekunder. Jenis primer adalah suatu kondisi di mana seorang anak masih mengompol di tempat tidur setelah usia 5 atau 6 tahun. Hal ini seringkali bersifat turun-temurun. Jenis sekunder terjadi ketika seorang anak yang telah berhenti mengompol selama sedikitnya enam bulan menjadi mengompol lagi. Hal ini seringkali disebabkan stres emosional atau kondisi medis tertentu. Pada kebanyakan kasus, mengompol primer tidak disebabkan oleh gangguan medis. Sedangkan mengompol sekunder dan mengompol di usia dewasa biasanya dipicu oleh infeksi saluran kemih, gangguan prostat pada pria usia lanjut, diabetes, sleep apnea, gangguan tidur, atau gangguan saraf.

Mengompol terjadi akibat lemahnya sensor motorik yang dimiliki seseorang, sehingga saat tidur ia tidak akan merasakan jika dirinya ingin buang air kecil. Kebiasaab mengompol pada anak akan hilang dengan sendirinya, terutama jika anak udah terganggu dengan kebiasaannya. Mengompol bisa menyebabkan trauma pada anak karena kebiasaan tersebut akan mempengaruhi kepercayaan dirinya. Maka dari itu, orang tua jangan menghukum, mengkritik, atau mempermalukan anak gara-gara mengompol.

Mengompol primer pada kasus yang sering terjadi bukan merupakan gangguan medis. Kondisi tersebut terjadi akibat keterlambatan proses pematangan sistem saraf pada manusia, sehingga otak tidak menangkap sinyal yang dikirim oleh kandung kemih yang sudah penuh ketika sudah terlelap. Mengompol perlu mendapat perhatian bila masih terjadi pada usia remaja/dewasa.

Mengompol sekunder dapat menjadi tanda dari masalah medis atau emosional yang mendasarinya. Anak dengan mengompol sekunder jauh lebih mungkin untuk memiliki gejala lain, seperti tidak dapat menahan kencing di siang hari. Kondisi mengompol sekunder dapat disebabkan oleh:

  • Infeksi saluran kemih: Iritasi kandung kemih dapat menyebabkan rasa sakit atau iritasi dengan buang air kecil, dorongan kuat untuk buang air kecil(urgensi), dan sering buang air kecil(frekuensi). Infeksi saluran kemih pada anak-anak dapat menunjukkan masalah lain, seperti kelainan anatomi.
  • Diabetes: Orang dengan diabetes memiliki tingkat gula yang tinggi dalam darah mereka. Tubuh meningkatkan pengeluaran urin untuk mencoba menghilangkan gula. Frekuensi buang air kecil yang sering adalah gejala umum dari diabetes.
  • Kelainan struktural atauanatomi: Kelainan padaorgan, otot, atau sarafyang terlibat dalambuang air kecildapat menyebabkaninkontinensiaatau masalahkencinglain yangbisamuncul sebagaimengompol.
  • Masalah neurologis: Kelainan padasistem saraf, atau cedera atau penyakit sistem saraf, dapat mengganggu keseimbangan saraf halus yang mengontrol buang air kecil.
  • Masalah emosional: Stress atau tekanan emosional terkadang menyebabkan anak mengompol. Perubahan besar, seperti mulai sekolah, bayi baru, atau pindah kerumah baru, adalah tekanan lain yang juga dapat menyebabkan mengompol. Anak-anak yang mengalami pelecehan fisik atau seksual terkadang juga mulai mengompol.

Kebiasaan mengompol di usia anak yang sudah besar cenderung bersifat turun temurun. Banyak anak-anak yang mengompol memiliki orangtua pernah mengalaminya juga Sebagian besar anak-anak ini berhenti mengompol pada usia yang sama ketika orang tua mereka berhenti mengompol.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here