Penyebab dan Pencegahan Keguguran

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Keguguran adalah hal yang paling ditakuti oleh ibu hamil. Istilah keguguran (miscarriage) mendefiniskan kematian janin dalam kandungan sebelum usia 20 minggu kehamilan. Kebanyakan keguguran terjadi sebelum 12 minggu kehamilan. Gejalanya ditandai dengan bercak atau pendarahan vagina, kram di perut atau punggung bawah, dan keluarnya cairan atau jaringan dari vagina. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan keguguran, namun seringkali penyebab tersebut tidak dapat diidentifikasi. Penting juga untuk diingat bahwa keguguran tidak disebabkan karena wanita hamil berolahraga, berhubungan seks ataupun bekerja (selama pekerjaannya tidak membuatnya terpapar bahan kimia atau radiasi berbahaya).

Keguguran yang terjadi selama trimester pertama kehamilan (tiga bulan pertama) biasanya disebabkan oleh masalah pada janin karena tidak dapat berkembang normal. Bila terjadi selama trimester kedua kehamilan, keguguran mungkin terjadi akibat kondisi kesehatan yang diderita sang ibu.

Trimester pertama

  • Masalah kromosom. Kromosom adalah struktur dalam inti sel yang terdiri dari DNA di mana informasi genetik dalam sel disimpan. Terkadang, bisa terjadi kesalahan pada titik konsepsi dan janin menerima terlalu banyak atau tidak cukup kromosom. Meskipun belum sepenuhnya dipahami, tetapi hal ini mengakibatkan janin tidak dapat berkembang secara normal, sehingga dapat mengakibatkan keguguran.
  • Masalah plasenta. Plasenta adalah organ yang berfungsi mengantarkan oksigen dan zat gizi yang bermanfaat bagi proses tumbuh kembang janin. Jika ada masalah dengan plasenta, dan janin tidak mendapatkan pasokan zat gizi yang dibutuhkannya, maka berbagai masalah dapat terjadi, termasuk keguguran.

Trimester kedua

  • Masalah kesehatan kronis. Beberapa kondisi kesehatan kronis dapat meningkatkan risiko keguguran pada trimester kedua. Ini seperti diabetes yang tidak terkendali, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, hipotiroidisme dan hipertiroidisme.
  • Infeksi. Beberapa infeksi tertentu yang terjadi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko keguguran. Ini seperti rubella, cytomegalovirus, vaginosis bakteri, HIV, klamidia, gonore, sifilis dan malaria.
  • Keracunan makanan. Keracunan makanan terjadi karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri. Bakteri yang mengontaminasi dapat menyebabkan infeksi bakteri seperti listeriosis, salmonellosis dan toxoplasmosis, dan ini dapat menyebabkan keguguran. Ini bisa terjadi karena mengonsumsi produk susu atau minuman lain yang tidak dipasteurisasi, dan mengonsumsi makanan mentah atau makanan yang tidak dimasak sampai matang.
  • Obat-obatan. Obat-obatan yang meningkatkan risiko keguguran meliputi misoprostol¬† atau methotrexate (obat rheumatoid arthritis), retinoid (obat eksim dan jerawat), dan NSAID seperti ibuprofen (obat pereda nyeri).
  • Masalah struktur rahim. Masalah dan kelainan pada rahim juga dapat menyebabkan keguguran di trimester kedua. Ini seperti adanya pertumbuhan tumor jinak (fibroid) atau bentuk rahim yang abnormal.
  • Serviks lemah. Dalam beberapa kasus, otot-otot pada serviks (leher rahim) menjadi lebih lemah dari biasanya. Kondisi ini dikenal sebagai inkompetensi serviks. Serviks yang melemah dapat disebabkan oleh cedera sebelumnya ke daerah ini, biasanya setelah prosedur pembedahan. Inkompetensi serviks dapat menyebabkan serviks membuka terlalu dini selama kehamilan, yang pada gilirannya mengarah ke keguguran.

Karena seringkali tidak dapat didentifikasi, maka bisa dikatakan cukup sulit untuk mencegah keguguran. Namun, Anda dapat meminimalisir risikonya, dengan cara:

  • Mengadopsi pola hidup sehat dan bersih sebelum kehamilan, sehingga tubuh dalam kondisi baik untuk pembuahan. Ini dapat dilakukan dengan cara makan sehat (diet seimbang dengan setidaknya lima porsi buah dan sayuran sehari), istirahat yang cukup, kurangi stres dan berolahraga secara teratur. Dengan begitu, Anda juga akan terbiasa melakukan gaya hidup sehat selama kehamilan sehingga dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya masalah dalam kehamilan.
  • Tidak merokok selama kehamilan.
  • Tidak minum alkohol atau menggunakan obat-obatan terlarang selama kehamilan.
  • Menghindari kontak dengan orang sakit guna memiminalisir risiko terjadinya infeksi virus atau bakteri tertentu selama kehamilan.
  • Menghindari makanan tertentu selama kehamilan (terutama susu atau jus kemasan yang tidak dipasteurisasi, makanan mentah dan makanan yang tidak dimasak sampai matang) yang bisa membuat Anda sakit (keracunan makanan atau terinfeksi bakteri) atau membahayakan janin dalam kandungan.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan secara sembarangan tanpa izin dokter kandungan.
  • Tidak melewatkan pemeriksaan kehamilan rutin, sehingga adanya kelainan atau masalah pada kehamilan dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY