Rokok Elektrik (Vape) Juga Dapat Menyebabkan Kanker

0
13
www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Vape atau rokok elektrik kini semakin menjamur di kalangan masyarakat Indonesia. Dianggap lebih ringan resikonya dibanding rokok tembakau, membuat vape jadi buruan banyak orang. Namun apakah vape benar-benar aman bagi kesehatan?

Trend rokok elektrik semakin menanjak

Kemunculan rokok elektrik di Indonesia, rupanya disambut positif banyak pihak. Perlahan-lahan vape menjadi primadona bagi berbagai kalangan. Keberadaan vape sebenarnya memiliki tujuan untuk mengurangi penggunaan rokok tembakau.

Beberapa pihak bahkan menjelaskan penggunaan vape lebih aman ketimbang rokok tembakau. Alhasil banyak orang yang kemudian pindah ke vape, karena percaya mampu mengurangi risiko penyakit paru-paru atau kanker.

Bagaimana cara kerja vape?

Vape bisa dikatakan sebagai salah satu sarana penghantar nikotin secara elektronik. Vape awalnya dirancang guna membantu pecandu rokok tembakau, sehingga bisa berhenti merokok. Dengan mengalihkan aktivitas ke rokok elektrik, perlahan-lahan seseorang bisa belajar untuk berhenti merokok.

Secara khusus terdapat tiga komponen utama dalam vape. Ada elemen pemanas, baterai, serta cartrigde (tabung berisi cairan). Cairan dalam tabung memiliki kandungan nikotin, propilen glikol, dan penambah rasa. Beberapa vape mempunyai cartridge dan baterai  yang bisa diisi ulang.

Cara kerja vape adalah dengan memanaskan cairan yang terdapat dalam tabung. Kemudian menciptakan uap seperti asap, yang mengandung zat-zat kimia. Pengguna lantas menghisap zat kimia tersebut, langsung dari corong tabung.

Apakah vape bisa menyebabkan kanker dan penyakit lain?

Uap yang diciptakan vape bukanlah uap air. Uap tersebut juga memiliki kandungan nikotin dan bisa mengandung zat kimia lainnya. Tentu saja uap tersebut bisa mengganggu kesehatan, sekaligus mencemari udara sekitar. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa vape masih memiliki bahaya bagi tubuh.

Salah satu pihak yang mengkaji vape secara ilmiah adalah Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dari Amerika Serikat. Beberapa hasil penelitian mengungkapkan bahwa nikotin dalam vape diserap oleh tubuh pengguna, termasuk orang yang ada di sekitarnya.

Hasil penelitian menjelaskan jika nikotin sangat berbahaya bagi pengguna vape, khususnya yang masih berusia muda karena dapat mempengaruhi perkembangan otak. Anak-anak juga bisa saja mengalami keracunan apabila menelan, menghirup, atau menyerap uap vape secara berlebihan.

Hasil penelitian lainnya yang dilansir sciencenews, mengungkapkan bahwa bahan kimia dalam vape bisa merusak jaringan paru-paru. Dampaknya akan menyebabkan penurunan kemampuan sel dalam menjaga paru-paru dari zat atau kuman berbahaya.

Hal tersebut karena kandungan nikotin dalam vape bisa mengakibatkan sel paru-paru menjadi gampang ditembus oleh zat-zat berbahaya dari luar tubuh. Dampak terburuk dalam jangka waktu panjang adalah seseorang bisa terserang kanker paru-paru. Uraian di atas setidaknya menjadi referensi tambahan, bahwa penggunaan vape tidak benar-benar bebas dari penyakit. (APY)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY