Tes IVA Untuk Deteksi Dini Kanker Serviks

Valentines woman holding heart. Love concept

SehatFresh.com – Kanker serviks (kanker leher rahim) merupakan jenis kanker yang kini menjadi momok menakutkan bagi kaum wanita di seluruh dunia. Saat ini, kanker serviks menduduki urutan kedua dari penyakit kanker yang menyerang wanita di dunia dan urutan pertama untuk wanita di negara yang sedang berkembang dan telah menjadi salah satu penyebab utama kematian wanita akibat kanker. Diperkirakan, setiap tahunnya terjadi peningkatan sekitar 500.000 penderita baru di seluruh dunia dan umumnya peningkatan tersebut lebih banyak terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Ironisnya, kasus kanker serviks sebagian besar terdeteksi pada stadium lanjut sehingga pengobatannya menjadi kompleks. Hal ini berdasarkan fakta bahwa lebih dari 50% perempuan yang terdiagnosa kanker tidak pernah melakukan skrining untuk kesehatan reproduksinya. Padahal, kunci keberhasilan program pengendalian kanker adalah skrining yang diikuti dengan pengobatan yang tepat. Deteksi dini kanker serviks dapat dilakukan dengan berbagai cara, di mana yang paling populer adalah dengan papsmear. Papsmear dinilai sebagai cara yang paling efektif untuk mendeteksi pertumbuhan sel pra kanker. Sayangnya, metode papsmear memerlukan biaya yang realtif mahal untuk mencakup semua kalangan. Kabar baiknya, kini telah diperkenalkan metode IVA yang diklaim oleh banyak pihak sebagai metode deteksi kanker serviks yang relatif murah, namun tetap mampu mendeteksi pengembangan kanker serviks dengan hasil yang akurat.

IVA atau Inspeksi Visual Asam Asetat merupakan salah satu metode sederhana yang dilakukan dengan pemeriksaan secara langsung terhadap leher rahim dengan cara memulas asam asetat, kemudian akan tampak perubahan warna yang menunjukkan hasil normal atau tidak normal. Tes tersebut merupakan skrining awal yang mudah dan murah untuk deteksi dini adanya kemungkinan kanker leher rahim di kemudian hari. Pemeriksaan IVA bertujuan untuk mencegah angka kematian dan kecacatan akibat kanker serviks. Setelah pemeriksaan, pengobatan dan tindakan lanjut dapat dilakukan dengan segera apabila setelah tes IVA, ditemukan adanya kelainan pada leher rahim.

Menurut WHO, skrining awal untuk deteksi kanker serviks dapat dilakukan:

  • 1 x pada usia 35-40 tahun.
  • Jika fasilitas memungkinkan, skrining dapat dilakukan setiap 10 tahun antara usia 35-55 tahun.
  • Setiap 5 tahun, jika fasilitas pemeriksaan di penyedia pelayanan lebih lengkap lagi.
  • Setiap 3 tahun pada wanita usia 35-60 tahun.
  • Jika pemeriksaan awal menunjukkan hasil positif (+), maka dianjurkan untuk melakukan skrining rutin setiap tahun.

IVA dilakukan pada wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual, tidak sedang menstruasi, tidak sedang hamil dan 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual serta alangkah baiknya dilakukan atas sepengetahuan suami. Jika Anda wanita usia subur yang aktif secara seksual, Anda dianjurkan untuk segera memeriksakan diri untuk skrining awal ke pelayanan kesehatan terdekat seperti puskesmas atau klinik. Tes IVA menjadi penting guna mengetahui ada tidaknya kemungkinan gejala awal pengembangan kanker serviks.

Sumber gambar : www.futuready.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY