Waspada Pengapuran Plasenta

Apa itu pengapuran plasenta? Pengapuran pada plasenta merupakan tanda menuanya plasenta. Pada saat pemeriksaan USG, akan tampak seperti bintik putih yang tersebar dari dasar plasenta hingga permukaannya. Pengapuran plasenta merupakan deposit kalsium, yang merupakan akibat pecahnya pembuluh darah kecil yang pecah sehingga terjadi penimbunan kalsium.

Deposit kalsium bisa menyebabkan jaringan plasenta menjadi jaringan ikat sehingga bisa menyumbat pembuluh darah di plasenta. Hal ini bisa membuat plasenta menjadi tidak dapat melakukan fungsinya untuk memasok nutrisi ke janin. Bila terjadi pada trimester ketiga usia kehamilan, pengapuran plasenta masih dianggap normal. Namun kondisi dianggap berbahaya jika pengapuran terjadi pada awal kehamilan karena dapat mengganggu nutrisi pada janin.

Pengapuran plasenta diklasifikasikan dengan derajat maturasi (kematangan) plasenta dan hal ini berkaitan dengan kondisi kesehatan ibu, janin, serta kondisi plasenta itu sendiri. Derajat maturasi ini tidak berkaitan dengan umur kehamilan. Klasifikasi plasenta sendiri secara USG dikategorikan menjadi 4 grade. Grade : 0=tidak ditemukan pengapuran; 1 = terlihat sedikit gambaran pengapuran; 2 = ditemukan pengapuran setengah lingkaran dan grade 3=banyak ditemukan pengapuran berbentuk lingkaran. Jika terjadi pengapuran plasenta grade 3 pada trimester kedua kehamilan, maka perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut medis. Biasanya untuk kasus seperti ini dilakukan pemantauan secara berkala terhadap pertumbuhan bayi untuk memastikan tidak adanya gangguan pertumbuhan.

Jika aliran darah dan kondisi plasenta tidak berfungsi optimal sebagaimana mestinya tentu pertumbuhan janin jadi terhambat. Jika pertumbuhan janin terhambat di awal kehamilan, biasanya janin menjadi lebih kecil, jumlah sel juga tidak akan sebanyak jumlah sel pada bayi normal. Proses pertumbuhan bayi ada dua fase, yaitu fase pembentukan sel (hiperfasi) dan fase pembesaran sel (hipertropi). Jika gangguan seperti pengapuran plasenta terjadi pada awal kehamilan, maka fase pembentukan sel menjadi terhambat.

Lalu, jika ibu mengalami pengapuran plasenta, apakah harus melahirkan secara caesar? Dokter biasanya menyarankan induksi dengan pemantauan kondisi janin secara ketat. Jika terdapat stres pada janin, besar kemungkinan dokter memilih caesar. Dokter biasanya akan memberikan obat pengencer darah agar aliran darah yang membawa nutrisi dan oksigen dari ibu ke plasenta lalu ke janin menjadi lebih lancar.

Pengapuran plasenta lebih sering terjadi pada kehamilan anak pertama. Kondisi ini juga cenderung dipengaruhi oleh gaya hidup ibu. Jika gaya hidup yang buruk tidak segera diperbaiki, pengapuran plasenta bisa terjadi kembali pada kehamilan berikutnya. Itulah sebabnya penting bagi ibu hamil untuk:

  • Menerapkan pola hidup sehat, seperti pola makan yang teratur, berolahraga rutin, cukup istirahat, berhenti merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol.
  • Menghindarkan diri dari stres.
  • Memeriksakan kondisi kehamilan secara teratur (Ante Natal Care).

*ultrasound-images.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here