Dokter Boy Abidin, SpOG Bahas Fakta dan Mitos Pil KB

www.cosmomom.net

SehatFresh.com #DokterTalk – Setiap tahun di seluruh dunia terdapat 85 juta kehamilan yang tidak direncanakan. Lebih dari setengahnya terjadi pada perempuan di Asia. Dalam situasi sulit ini, banyak perempuan memutuskan untuk melakukan aborsi. Setiap aborsi tentunya akan berdampak pada risiko kesehatan perempuan dan kontrasepsi menjadi hal penting untuk menghindari hal tersebut. Banyak jenis pilihan kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan perempuan.

Kontrasepsi hormonal seperti kontrasepsi oral (pil), suntik, susuk (implan), dan koyo. Selain itu ada juga Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), cincin vagina, kondom, dan sterilisasi merupakan kontrasepsi yang dapat diandalkan untuk memberikan perlindungan dari terjadinya kehamilan apabila dipergunakan secara benar. Kontrasepsi tersebut juga tidak bersifat permanen, dapat dihentikan kapan saja sehingga perempuan dapat segera hamil. Saat ini, sembilan dari sepuluh perempuan di dunia menggunakan kontrasepsi modern.

Pil menempati urutan ke tiga sebagai metode kontrasepsi paling umum di dunia saat ini dimana memiliki distribusi geografis terluas dibanding kontrasepsi lainnya. Di Asia sebanyak 6,4% menggunakan pil kontrasepsi dan di Indonesia sebesar 13,6%, sementara penggunaan pil tertinggi untuk wilayah Asia Tenggara ditempati oleh Thailand sebesar 35%.

Menurut dr. Boy Abidin, SpOG, banyak perempuan takut menggunakan pil kontrasepsi hormonal (pil KB) karena khawatir sulit hamil, gemuk, dan kanker. Padahal hal tersebut tidak benar. Menurut penelitian yang telah dilakukan, penggunaan pil KB tidak menyebabkan efek negatif pada tingkat kesuburan. Juga tidaklah benar bila semua pil kontrasepsi menyebabkan penambahan berat badan. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa penambahan berat badan bukan disebabkan oleh pemakaian pil kontrasepsi.

Ketika diminum secara konsisten dan benar, pil kontrasepsi kombinasi merupakan metode yang paling dapat diandalkan untuk mencegah kehamilan; memiliki tingkat kegagalan ≤ 1 persen (kurang dari 1 dalam 100 perempuan), namun karena faktor usia dan pola diet serta aktifitas fisik. Dr. Boy Abidin, SpOG menambahkan bahwa penggunaan pil kontrasepsi dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrium. Data menunjukkan bahwa risiko kanker menurun pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi untuk jangka waktu panjang. Penelitian juga menunjukkan bahwa adanya penurunan risiko kanker endometrium sebesar 50% pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi

Ketika orang berbicara tentang kontrasepsi oral, atau pil, biasanya mereka akan merujuk pada pil kontrasepsi kombinasi yang berisi hormon estrogen dan progestin. Kombinasi hormon tersebut memberikan efek kontrasepsi dan mempertahankan siklus menstruasi yang teratur. Pil kontrasepsi kombinasi tersedia dengan berbagai jenis progestin. Progestin tertentu memberikan efek non kontrasepsi seperti melawan efek estrogen yang menyebabkan retensi air (berat barat meningkat) dan gejala terkait. Efek non kontrasepsi lainnya termasuk pengobatan gejala emosional dan fisik premenstrual dysphoric disorder (PMDD), bentuk yang paling parah dari sindrom pramenstruasi (PMS). “Pil kontrasepsi kombinasi merupakan metode kontrasepsi yang sangat dapat diandalkan untuk menghindari kehamilan, bila diminum secara konsisten dengan jadwal yang tetap dan benar,” kata dr. Boy.

Banyak perempuan berpikir bahwa minum pil kontrasepsi itu repot karena sering lupa. “Bagaimana kalau lupa? Bila lupa dalam rentang waktu 12 jam, segera setelah ingat, minum pil yang terlupa dan pil yang berikutnya. Artinya minum sekaligus dua pil dalam satu hari,“tambah dr. Boy Abidin, SpOG.

Setiap perempuan berhak untuk mendapatkan informasi yang tepat dan berkonsultasi terkait berbagai pilihan kontrasepsi. Dengan memberikan informasi sesuai dengan fakta terkait pil kontrasepsi maka setiap perempuan dapat memperoleh dan mengetahui informasi berbasis ilmu pengetahuan sehingga membantu perempuan untuk menghilangkan mitos terkait pil kontrasepsi.

Bagaimana kontrasepsi hormonal bekerja?

Siklus menstruasi perempuan yang biasanya terjadi setiap 28 hari dikendalikan oleh salah satu bagian dari otak yaitu hipotalamus. Hipotalamus mengirimkan pesan ke kelenjar hipofisis di otak untuk merangsang ovarium memproduksi hormon seks wanita yaitu estrogen dan progesteron. Estrogen akan mempengaruhi kematangan sel telur di dalam indung telur (lihat gambar 1). Pada pertengahan siklus, sekitar 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya dimana terjadinya proses ovulasi: telur yang telah matang dilepaskan dari indung telur dan akan menuju tuba falopi kemudian terus ke dalam rahim. Efek lain dari estrogen adalah: lendir di mulut rahim (serviks) menjadi lebih tipis dan lebih licin, sehingga memudahkan sperma untuk masuk dan mencapai sel telur; lapisan rahim menebal, sehingga menciptakan lingkungan yang ideal untuk telur dibuahi.

Setelah ovulasi, sekresi hormon progesteron meningkat dan mencapai tingkat tinggi. Bersama dengan estrogen, progesteron membentuk lapisan rahim sehingga siap dipergunakan untuk telur yang telah dibuahi. Kondisi ini juga menyebabkan lendir serviks menebal untuk menghentikan kuman memasuki rahim. Telur yang telah matang layak untuk dibuahi sperma dalam rentang waktu sampai 24 jam, sedangkan sperma mampu hidup dalam tubuh wanita selama dua sampai lima hari. Jika telur tidak dibuahi, kadar estrogen dan progesteron akan turun sehingga menstruasi terjadi seperti luruhnya lapisan pada rahim yang sebelumnya dipersiapkan. Siklus ini kemudian dimulai dari awal lagi.

Kontrasepsi hormonal bekerja dengan mengubah fluktuasi hormonal dalam siklus menstruasi wanita. Efek dari penggunakan kontrasepsi hormonal adalah tubuh berpikir dalam keadaan hamil meskipun tingkat hormon perempuan lebih rendah ketika mengkonsumsi pil dibandingkan selama kehamilan. Bahkan, kontrasepsi hormonal yang digunakan saat ini hampir selalu mengandung hormon dosis rendah, dan biasanya ditoleransi dengan baik bila digunakan sesuai indikasi.

Bagaimana berbagai kontrasepsi hormonal mencegah kehamilan?

Pil adalah salah satu metode yang paling populer untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan – setelah sterilisasi dan AKDR. Sebagian besar pil yang beredar di pasar merupakan kombinasi dari dua hormon sintetis, estrogen dan progestin. Pil tersebut disebut kontrasepsi oral kombinasi (KOK) dan bekerja di tiga cara yang berbeda :

  • Mencegah ovulasi (sebagai manfaat utama)
  • Mengentalkan lendir serviks dan sehingga sperma sulit mencapai sel telur
  • Mengubah lapisan rahim untuk mencegah implantasi telur yang dibuahi

Komponen estrogen dalam kontrasepsi oral kombinasi menghentikan proses kematangan telur dalam ovarium, sedangkan progestin menghambat ovulasi, dan menyebabkan lendir serviks menebal. Efek gabungan dari kedua hormon tersebut mencegah lapisan rahim dari penebalan sehingga telur yang dibuahi tidak dapat menanamkan diri sendiri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY