Kepekaan Terhadap Flukonazol Sebagai Obat Kriptokokosis.

Kriptokokosis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur Cryptococcus sp. Diperkirakan satu juta individu terinfeksi, dan 625.000 meninggal dunia pertahun. Kriptokokosis merupakan infeksi oportunistik pada individu imunokompromis (AIDS, transplantasi organ padat, keganasan hematologi, kegagalan fungsi organ, pemakaian kortikosteroid jangka panjang dan lain-lain) maupun individu dengan imunitas yang normal.

Penyebab kriptokokosis terutama Cryptococcus neoformans dan C. gattii (gambaran klinis, perjalanan penyakit dan geografis berbeda). Keduanya dibagi beberapa serotipe/ varietas C. neoformans (serotipe A/ C. n. var. grubii), serotipe D/ C. n. var. neoformans) dan hibrid AD), sedangkan C. gattii (serotipe B dan C). Cryptococcus neoformans var. grubii ditemukan kosmopolit, sedangkan C. neoformans var. neoformans terbatas di Eropa, California, China dan India.

Kepekaan terhadap flukonazol sebagai obat utama fase rumatan menunjukkan ada isolat yang sensitif (secara umum), SDD dan resisten. Ditemukannya isolat yang SDD dan resisten secara invitro menuntut kewaspadaan kita tentang penggunaan flukonazol sebagai obar rumatan terhadap kriptokokosis. Mekanisme yang resistensi flukonazol dan golongan azol lainnya diantaranya adalah peningkatan efflux obat oleh gen transporter sel jamur, perubahan target obat akibat mutasi dan perubahan spesifik terhadap alur biosintesis.

Kepekaan terhadap vorikonazol menunjukkan hanya satu isolat yang SDD. Hal itu sesuai dengan Guinea et al, dan Khan et al, bahwa vorikonazol memiliki kemampuan antijamur yang tinggi terhadap Cryptococcus. Ditemukannya isolat yang SDD agak mengejutkan mengingat vorikonazol belum pernah disarankan untuk tatalaksana kriptokokosis. Hal yang perlu dipelajari lebih lanjut adalah apakah ada hubungan antara hasil tersebut dengan telah digunakannya golongan azol dalam pertanian. Kepekaan terhadap ketokonazol sebagai obat alternatif menunjukkan 100% sensitif.

Hal tersebut sesuai dengan da Silva et al. Ketokonazol dipilih sebagai obat uji karena pemakaian ketokonazol di Indonesia sangat luas dan mudah didapat, namun belum ada laporan adanya gangguan hati yang hebat selama penggunannya sebagai terapi. Berdasarkan hasil diatas perlu diteliti lebih lanjut mengenai efek ketokonazol sebagai terapi kriptokokosis mengenai lama pemberian dan dosis yang diberikan, serta efek samping terhadap hati penderita.

Hubungan genotipe terhadap obat antijamur menunjukkan bahwa genotipe AFLP1 sebagai genotipe mayoritas yang ditemukan dalam penelitian telah ada yang SDD terhadap beberapa obat antijamur (amfoterisin B, flukonazol dan vorikonazol), sedangkan AFLP1A terdapat isolat SDD dan resisten terhadap flukonazol, serta SDD terhadap amfoterisin B. Proporsi AFLP1A SDD terhadap amfoterisin B lebih tinggi (25%) daripada genotipe AFLP1 (10,2%). Terhadap vorikonazol seluruh isolat genotipe AFLP1A menunjukkan hasil sensitif. Genotipe AFLP3 tidak ada yang SDD dan resisten terhadap amfoterisin B, namun ada sebagian yang resisten terhadap flukonazol. Tidak terdapat hubungan antara genotipe dengan kepekaan Cryptococcus terhadap vorikonazol sesuai dengan penelitian Thompson et al dan Bertouts et al. Terdapat hubungan antara genotipe Cryptococcus dan kepekaan dengan amfoterisin B dan flukonazol.

Kami menyarankan dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai spesies, serotipe/varietas, faktor virulensi lainnya Cryptococcus baik sampel klinik maupun dari lingkungan, serta dilakukan secara proaktif, penelitian lebih lanjut mengenai keragaman genotipe Cryptococcus dan hubungannya dengan kepekaan obat antijamur yang dikorelasikan dengan outcome pasien.

Di tulis oleh:

dr. Robiatul Adawiyah, M. Biomed

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY