RISIKO PENYEBARAN KANKER PAYUDARA KE TULANG

SehatFresh.com #DokterTalk – Kanker payudara pada wanita masih merupakan problem yang serius di dunia, dikarenakan dua hal : 1. Merupakan kanker tersering pada perempuan di dunia, merupakan 11,9 % dari seluruh kanker, yang berarti lebih dari 1,6 juta kasus baru di seluruh dunia (GLOBOCAN 2012), dan penyebab kematian kedua tersering setelah kanker paru 2. Pasien kanker payudara stadium dini yang telah menjalani multimodalitas terapi sejak operasi, kemoterapi dan/atau radiasi dan/atau hormonal selama 5 tahun, tetap berisiko mengalami kekambuhan. Data penelitian menunjukkan risiko kambuh tertinggi terjadi pada 3-5 tahun pertama sejak terapi definitive, sebuah laporan menyebutkan risiko kambuh tetap ada bahkan sampai 20 tahun.

Tulang merupakan bagian tersering terlibat bila terjadi kekambuhan atau progresifitas penyakit, selain penyebaran (metastasis) ke hati, paru dan/atau otak. Data RS Kanker Darmais menunjukkan 24,4 % kasus kanker payudara stadium lanjut melibatkan tulang, data negara lain menunjukan 35–65%, bahkan data post mortem (otopsi) menunjukkan 70% positif adanya keterlibatan tulang.

Harapan hidup menengah (median) bila seorang pasien kanker payudara progresif menyebar ( metastasis) ke tulang, adalah 2–4 tahun, dan semakin menurun bila telah terjadi komplikasi: nyeri, hiperkalsemia, patah tulang kompresi, atau memerlukan radiasi dan/atau operasi. Berbeda dengan penyebaran sel kanker ke paru, hati atau otak, yang membuat harapan hidup pasien semakin rendah, pada pasien kanker payudara dengan metastasis ke tulang akan mengalami masa komplikasi yang lama, bahkan ada yang lebih dari 5 tahun. Hal itu jelas merupakan beban berat bagi pasien dan keluarganya baik secara fisik, psikologis dan juga ekonomi

Sampai saat ini belum ada kesepakatan global terkait factor risiko, predictor dan prognosis yang dapat menandai pasien mana yang akan kambuh, terutamanya ke tulang. Berbagai penelitian dengan terapi pencegahan bisfosfonat dan lainnya pada pasien stadium dini dan klinis-patologi berisiko rendah (-karakter pasien paling sering kambuh ke tulang-) seperti AZURE, ZOFAST dan ABCSG, memberikan hasil tidak berbeda bermakna dibandingkan kelompok kontrol (tanpa terapi), sehingga terapi pencegahan belum dapat diberikan secara rutin.

Berbeda dengan penelitian lain, penelitian ini yang telah dijalankan sejak tahun 2011 sampai Maret 2015 menganalisis secara bersamaan factor molecular (CXCR4, IL-11RA, TFF1 dan MLF1P), kliniko patologi (status hormonal, stadium, tipehistologi, dll) dan ekspresi genetik (mRNA) menggunakan panel 200 gen yang disusun tersendiri, pada sampel sedian biopsy kanker payudara metastasis tulang dibandingkan non tulang. Diperoleh hasil bahwa status ER+ (estrogen positif), IL11-RA (interleukin 11-receptor α) dan MLF1P (myeloid leukemic Factor-1P), merupakan penanda kejadian kemungkinan peningkatan metastasis tulang.

Berdasarkan tipe metastasis (tulang vs non tulang), proporsi ekspresi mRNA dan nilai turun naiknya jumlah ekspresi gen, diketahui gen ESR1 merupakan gen yang selalu terekspresi kuat     (upregulated). Diperoleh hasil panel 3-gen  pada metastasis tulang dengan organ lain, dan panel 8-gen pada metastasis hanya tulang dibandingkan metastasis non tulang, Kedua panel tersebut dapat manandai, memilah dan menjelaskan peningkatan kejadian metastasis tulang vs non tulang dengan performa yang baik dan sangat baik.

Penelitian ini merupakan yang pertama di Indonesia dan mungkin regional, yang telah memberi informasi molecular dan ekspresi genetic terkait penanda kejadian metastasis tulang. Bila penelitian lanjutan, yang diharapkan dapat bekerja sama dengan pusat kesehatan lain di Indonesia memberikan hasil yang konsisten, maka akan membuka peluang pasien kanker payudara stadium dini dan stadium lanjut non tulang dengan hasil positif factor-faktor di atas, untuk mendapat terapi pencegahan metastasis tulang, misalnya dengan bisfosfonat atau penghambat RANKL (zat yang merangsang aktifnya osteoklas, sel yang menyerap tulang).

Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM
Staf Divisi Hematologi-Medikal Onkologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM

Sumber gambar : blog.angsamerah.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY